Suarasantrinews.com – Perjalanan hidup Diana Lyntusari adalah potret tentang ketangguhan perempuan dalam membaca peluang, berani mengambil keputusan besar, dan setia pada proses. Dari panggung seni hingga dapur produksi rumahan, Diana membuktikan bahwa perempuan bisa membangun mimpi di mana pun, bahkan ketika harus memulai kembali dari nol.
Nama Diana Lyntusari pernah dikenal sebagai Duta Wisata Banyumas, sebuah peran yang menuntut kepercayaan diri, kecakapan komunikasi, serta kecintaan pada budaya. Namun jauh sebelum itu, karakter tangguhnya sudah terbentuk sejak kecil. Sejak taman kanak-kanak, ia diperkenalkan pada dunia tari oleh orang tuanya. Disiplin latihan, keberanian tampil, dan konsistensi menjadi nilai yang terus ia bawa hingga dewasa.
Di masa remaja, Diana Lyntusari aktif menari dan kerap mewakili sekolah hingga tingkat provinsi. Prestasinya mencapai puncak pada tahun 2003 ketika ia meraih Juara 1 sekaligus Juara Favorit Pemilihan Duta Wisata Banyumas. Prestasi ini mengantarkannya masuk Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui jalur prestasi seni, sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa bakat dan kerja keras perempuan layak mendapat ruang.
Selepas masa kuliah, Diana Lyntusari kembali menantang dirinya dengan berkarier sebagai pramugari. Ia menjalani kehidupan profesional di luar kota, menetap di Tangerang Selatan hingga tahun 2021. Di tengah peran ganda sebagai pekerja dan ibu, Diana Lyntusari tak berhenti belajar. Justru di fase inilah ia menemukan kekuatan baru yaitu dunia kuliner.
Berawal dari hobi memasak untuk keluarga dan teman, Diana Lyntusari perlahan melihat peluang. Permintaan terus berdatangan, mendorongnya lebih serius mengembangkan usaha rumahan. Sejak 2017, berbagai menu ia produksi, dari bolu gulung, dessert, hingga nasi khas, semuanya lahir dari dapur kecil dengan semangat besar.
Pandemi Covid-19 menjadi ujian sekaligus titik balik. Diana Lyntusari mengambil keputusan berani pulang ke Banyumas dan memulai usaha dari awal, tanpa jaringan, tanpa pasar pasti. Sebuah pilihan yang tidak mudah, terutama bagi perempuan yang harus kembali membangun kepercayaan pasar.
Dengan strategi matang, Diana Lyntusari memulai dari produk kue kering yang tahan lama dan mudah dikirim ke luar kota. Ia melakukan trial and error, belajar dari kegagalan, hingga produknya mendapat respons positif dan mampu bertahan dalam jangka panjang. Ketekunan menjadi kunci.
Seiring waktu, permintaan dari lingkungan sekitar mulai berdatangan. Diana Lyntusari jeli membaca tren dan melihat peluang pada bolu chiffon, kue yang menuntut ketelitian dan konsistensi. Ia mengikuti kursus, belajar langsung dari mentor, lalu kembali menguji resep di dapur rumahnya. Hampir satu tahun ia habiskan untuk menyempurnakan formula terbaik, sebuah proses sunyi yang sering dilalui perempuan pelaku UMKM.
Momentum datang menjelang Lebaran 2022. Dengan keberanian penuh, Diana Lyntusari mempromosikan produknya secara masif. Respons pasar melampaui ekspektasi. Dari sanalah Sari Asian Food tumbuh dan dikenal luas, dengan bolu chiffon lembut sebagai produk andalan.
Bagi Diana Lyntusari, menjadi perempuan inspiratif bukan tentang kesempurnaan, melainkan keberanian untuk terus melangkah meski ragu, dan keteguhan untuk bangkit setiap kali harus memulai ulang. Ia membuktikan bahwa peran perempuan sebagai ibu, pekerja, dan pelaku usaha bisa berjalan beriringan, saling menguatkan.
Dari seni ke kuliner, dari panggung ke dapur, kisah Diana Lyntusari adalah pengingat bahwa mimpi perempuan tidak pernah memiliki batas selama ada kemauan untuk belajar, berproses, dan percaya pada diri sendiri. (sty)










